Jantung

Sindrom Brugada

Diterbitkan: 03 Feb 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Sindrom Brugada
Jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sindrom Brugada bisa memicu serangan jantung
Brugada syndrome atau sindrom Brugada adalah salah satu penyakit akibat gangguan irama jantung. Kondisi ini dapat berakibat fatal dan membahayakan jiwa penderitanya.Sayangnya, walau berbahaya, penderita Sindrom Brugada seringkali tidak mengalami gejala apapun. Akibatnya, mereka tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit langka ini.Sindrom Brugada dapat diturunkan dari orangtua ke anaknya. Sindrom ini juga lebih sering diderita pria dibandingkan wanita.Hingga sekarang, para peneliti masih mempelajari lebih dalam tentang sindrom Brugada untuk menemukan penyebab sekaligus pengobatannya. 
Sindrom Brugada
Dokter spesialis Jantung
GejalaPusing, pingsan, sesak napas (terutama pada malam hari)
Faktor risikoFaktor genetik, laki-laki, ras Asia
Metode diagnosisEKG, pemeriksaan elektrofisiologi jantung, tes genetik
PengobatanICD, obat-obatan, kontrol kesehatan rutin
ObatQuinidine
KomplikasiHenti jantung mendadak, pingsan
Kapan harus ke dokter?Jantung berdetak cepat atau tidak teratur, sering pingsan, memiliki anggota keluarga dengan sindrom Brugada
Seperti disebutkan sebelumnya, kebanyakan penderita sindrom Brugada tidak mengalami gejala yang signifikan. Terkadang, sindrom ini terdiagnosis secara tidak sengaja saat pemeriksaan rekam jantung.Apabila menyebabkan indikasi, gejala sindrom Brugada biasanya berupa:
  • Henti jantung. Ini bisa menjadi gejala pertama yang dialami oleh penderita karena sindrom Brugada kerap tidak disadari.
  • Denyut jantung yang cepat dan tidak teratur.
  • Hilang kesadaran atau pingsan.
  • Rasa berdebar-debar pada dada.
Komplikasi sindrom Brugada, yaitu kehilangan kesadaran dan henti jantung, umumnya terjadi ketika penderita beristirahat atau tidur. Karena itu, penyakit langka ini kerap berakibat fatal. 
Penyebab sindrom Brugada adalah mutasi genetik. Mutasi ini memicu gangguan pada kanal ion jantung, yang kemudian menyebabkan jantung berdetak secara abnormal, cepat, dan berakibat fatal.Munculnya mutasi genetik tersebut tidak diketahui penyebabnya hingga sekarang. Namun ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami sindrom Brugada.Faktor-faktor risiko sindrom Brugada tersebut meliputi:
  • Riwayat sindrom Brugada pada keluarga

Penyakit ini sering diturunkan dari orangtua ke anak.
  • Jenis kelamin

Pria memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini.
  • Ras Asia

Orang keturunan Asia berisiko lebih besar untuk terkena sindrom Brugada.
  • Demam

Pada seseorang yang berisiko tinggi mengalami sindrom Brugada, demam dapat mencetuskan pingsan atau henti jantung yang tiba-tiba.
  • Faktor-faktor lainnya

Orang yang mengalami gangguan struktur jantung dan ketidakseimbangan elektrolit, serta menggunakan obat-obatan terlarang (seperti kokain) juga lebih rentan untuk terkena sindrom Brugada. 
Dokter membuat diagnosis sindrom Brugada berdasarkan pemeriksaan klinis, rekam jantung, dan tes penunjang lainnya. Berikut penjelasannya
  • Rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG)

Pada pemeriksaan EKG, dokter akan meletakkan alat berupa probe di atas dada Anda. Alat ini akan merekam impuls listrik yang membuat jantung Anda dapat berdetak, sehingga ketidakteraturan detak jantung bisa terdeteksi. Namun irama jantung terkadang dapat berubah-ubah. Akibatnya, pemeriksaan rekam jantung sendiri tidak dapat menangkap ketidakteraturan irama jantung. Dokter Anda mungkin memberikan beberapa jenis obat selama pemeriksaan jantung. Misalnya obat antiangina, obat antidepresan, obat antipsikotik, atau obat antihistamin.Pemberian obat tersebut bertujuan agar pola sindrom Brugada tipe 1 bisa terlihat pada hasil rekam jantung.
  • Pemeriksaan elektrofisiologi jantung

Dokter mungkin pula menganjurkan pemeriksaan elektrofisiologi jantung (EP test) bila Anda pernah mengalami henti jantung tiba-tiba. Tes ini memungkinkan dokter untuk mengetahui kecenderungan Anda dalam mengalami komplikasi sindrom Brugada.
  • Tes genetik

Pemeriksaan genetik bisa dianjurkan oleh dokter bagi anggota keluarga Anda yang lain, guna mengetahui apakah mereka menderita sindrom Brugada atau tidak. 
Pengobatan sindrom Brugada dapat berupa:
  • Implantable cardiac defibrillator (ICD)

Cara mengobati sindrom Brugada yang utama adalah pemasangan ICD. Alat ini dapat memantau detak jantung pasien secara berkala.ICD akan memberikan syok listrik ke jantung pasien ketika dibutuhkan. Dengan ini, irama jantung yang tidak normal pun bisa dikendalikan.Meski begitu, pemasangan ICD perlu pertimbangan yang matang. Pasalnya, alat ini juga bisa memicu syok listrik yang mungkin tidak dibutuhkan.Jadi konsultasikan dengan dokter mengenai kelebihan dan kekurangan alat ICD agar manfaatnya bisa diperoleh seraca optimal.
  • Obat-obatan

Sebagai penanganan tambahan, dokter juga bisa memberikan obat-obatan. Misalnya, quinidine.Obat ini dapat membantu dalam menjaga irama jantung agar tetap normal. Pasien yang telah memakai ICD juga perlu mengonsumsi obat.
  • Kontrol kesehatan rutin

Pasien harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter. Langkah ini bertujuan memantau kondisi pasien dan memastikan bahwa pengobatan yang diberikan sudah tepat.Dokter juga akan melakukan pemeriksaan kesehatan jika terdapat masalah baru pada jantung pasien. 

Komplikasi sindrom Brugada

Tanpa penanganan yang benar, sindrom Brugada dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Henti jantung mendadak

Bila tidak ditangani dengan segera, henti jantung mendadak dapat berakibat fatal.
  • Pingsan

Pasien dengan sindrom Brugada yang pingsan perlu mendapatkan pertolongan medis secepatnya. 
Penyebab sindrom Brugada belum diketahui, dan gejalanya juga sering tidak disadari. Karena itu, cara mencegah sindrom Brugada juga sulit dilakukan.Untuk berjaga-jaga, tes genetik bisa dianjurkan oleh dokter bila pasien memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Tes ini dapat menentukan apakah seseorang mengidap atau berisiko mengalami sindrom Brugada.Anda juga bisa mengurangi risiko peningkatan denyut jantung dengan menghindari pemicunya. Beberapa langkahnya berupa:
  • Jika mengalami demam di atas 38 derajat Celsius, minumlah obat pereda demam seperti paracetamol.
  • Segera periksakan diri ke dokter apabila obat tidak bisa membantu dalam menurunkan demam.
  • Hindari mengonsumsi terlalu banyak alkohol dalam waktu singkat.
  • Carilah pertolongan medis bila mengalami diare atau muntah yang tidak junjung membaik. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi dan memperberat kerja jantung.
  • Pastikan tenaga medis mengetahui bahwa Anda mengidap sindrom Brugada. Dengan ini, dokter bisa memberikan obat atau penanganan yang sesuai.
 
Bila Anda mengalami jantung yang berdetak cepat atau tidak teratur, segeralah berkonsultasi ke dokter atau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Demikian pula jika Anda sering pingsan karena penyebabnya mungkin saja gangguan pada jantung. Anda juga dapat menghubungi dokter tentang kemungkinan Anda untuk mengalami sindrom Brugada apabila ada anggota keluarga kandung Anda yang juga mengidap sindrom ini. 
Bila mencurigai kondisi yang Anda alami sebagai sindrom Brugada, dokter umum akan menganjurkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk memastikannya. Setelahnya, Anda akan dirujuk ke dokter spesialis jantung agar mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif.  Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat apa saja riwayat penyakit yang pernah atau sedang Anda derita.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami oleh keluarga kandung Anda.
  • Catat obat-obatan, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait sindrom Brugada?
  • Apakah ada anggota keluarga Anda yang mengalami penyakit serupa?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis sindrom Brugada. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brugada-syndrome/symptoms-causes/syc-20370489
Diakses pada 18 November 2019
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16813-brugada-syndrome
Diakses pada 18 November 2019
Genetic Home Reference. https://ghr.nlm.nih.gov/condition/brugada-syndrome
Diakses pada 18 November 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/genetics/condition/brugada-syndrome/
Diakses pada 3 Februari 2021
WebMD. https://www.webmd.com/heart-disease/atrial-fibrillation/brugada-syndrome
Diakses pada 3 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email