Kulit & Kelamin

Sindrom Stevens Johnson

Diterbitkan: 21 Dec 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Sindrom Stevens Johnson
Kulit merah dan mengelupas adalah gejala sindrom Stevens Johnson
Sindrom Stevens Johnson (SSJ) merupakan kelainan langka yang menyerang kulit dan selaput lendir sebagai jaringan lunak pelapis sistem pencernaan dari mulut ke anus, organ reproduksi (saluran genital), serta bola mata.SSJ jarang terjadi, tapi dapat menimbulkan kondisi yang serius bahkan fatal. Sindrom ini biasanya disebabkan karena reaksi terhadap obat-obatan tertentu, maupun terkadang oleh infeksi.Pada awalnya, gejala SSJ menyerupai flu, diikuti dengan ruam merah keunguan yang menyebar dan membentuk lepuhan. Selanjutnya, kulit akan mati dan mengelupas. Sindrom Stevens Johnson adalah kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. 
Sindrom Stevens Johnson
Dokter spesialis Kulit
GejalaRuam kemerahan, lepuh pada kulit dan selaput lendir, demam
Faktor risikoInfeksi HIV, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, riwayat Sindrom Stevens Johnson
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, biopsi kulit, pemeriksaan kultur
PengobatanObat-obatan, perawatan luka, infus cairan dan nutrisi
ObatSteroid, pereda nyeri, antibiotik
KomplikasiSelulitis, infeksi darah (sepsis), gangguan fungsi paru
Kapan harus ke dokter?Memiliki tanda dan gejala seperti Sindrom Stevens Johnson
Gejala Sindrom Stevens Johnson meliputi:
  • Gejala flu seperti demam tinggi, tidak enak badan, sakit kepala atau nyeri sendi (pegal-pegal) sebagai gejala awal
  • Sakit yang menyebar pada kulit
  • Ruam berwarna merah dan keunguan yang menyebar, beberapa hari setelah gejala seperti flu muncul
  • Lepuhan berukuran besar pada kulit dan selaput lendir di mulut, hidung, saluran napas, mata, serta kelamin
  • Kulit mengelupas dalam beberapa hari setelah lepuhan terbentuk
  • Luka berkerak di berbagai area
  • Batuk, sakit pada mulut dan tenggorokan, mata terasa seperti terbakar, dan kelelahan yang biasanya muncul sebelum ruam terlihat
  • Wajah dan bibir bengkak
  • Mata tertutup rapat dengan sendirinya, karena lecet dan bengkak
  • Rasa sakit ketika buang air kecil akibat selaput lendir di saluran kencing yang ikut melepuh.
 
Penyebab sindrom Stevens Johnson belum diketahui secara pasti. Namun secara umum, kondisi ini terjadi sebagai reaksi tubuh terhadap obat-obatan tertentu dan juga infeksi.Pada anak-anak, sindrom Stevens-Johnson biasanya dipicu oleh infeksi virus, seperti:
  • Penyakit gondok
  • Flu
  • Virus herpes-simpleks, yang menyebabkan cold sores
  • Virus Coxsackie, yang menyebabkan penyakit Bornholm
  • Virus Epstein-Barr, yang menyebabkan demam kelenjar atau mononukleosis.
  • Pneumonia
  • HIV
  • Hepatitis A
  • Meski jarang, infeksi bakteri juga dapat memicu terjadinya SSJ.
Pada orang dewasa, sindrom Stevens-Johnson seringkali muncul sebagai bentuk reaksi yang merugikan terhadap obat (adverse reaction).Obat-obatan yang paling sering memicu sindrom Stevens-Johnson adalah:
  • Obat asam urat seperti allopurinol
  • Obat anti kejang, yaitu karbamazepin, lamotrigine, fenobarbital, serta fenitoin
  • Obat antivirus seperti nevirapine
  • Golongan obat antiradang seperti meloxicam, piroxicam, dan sulfasalazine
  • Antiobiotik seperti sulfamethocazole, penicillin
  • Obat antidepresan, misalnya sertraline
  • Obat antinyeri seperti parasetamol dan naproxen sodium
SSJ yang terjadi sebagai adverse reaction biasanya muncul pada awal penggunaan obat sampai lebih dari 2 minggu setelah selesai menggunakannya.Meskipun obat-obatan tersebut kerap menjadi penyebab Sindrom Stevens Jhonson, penting untuk ditekankan bahwa SSJ adalah reaksi yang jarang terjadi. Risiko terjadinya sindrom ini sangat rendah, bahkan untuk orang-orang yang rutin mengonsumsi obat-obatan tersebut.Baca juga: Obat Bisa Sebabkan Alergi pada Anak, Kenali Faktor Risikonya 

Faktor Risiko

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom Stevens Johnson:
  • Infeksi HIV. Orang dengan HIV memiliki risiko 100% untuk terkena sindrom Stevens Johnson
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah. Jika memiliki daya tahan tubuh rendah, seseorang akan memiliki risiko tinggi terkena Sindrom Stevens Johnson
  • Riwayat sindrom Stevens Johnson sebelumnya. Riwayat SSJ terkait obat tertentu, akan memningkatkan risiko berulangnya sindrom tersebut bila Anda mengonsumsi obat yang sama.
  • Anggota keluarga dengan Sindrom Stevens J. Gen HLA-B*1502. Keberadaan gen yang disebut HLA-B*1502 meningkatkan risiko terhadap Sindrom Stevens Johnson, terutama jika mengonsumsi obat-obatan untuk kejang, asam urat, atau penyakit mental
Baca juga: Positif HIV Rentan Mengalami Infeksi Virus Corona, Benarkah? 
Dalam mendiagnosis sindrom Stevens Johnson, dokter akan melakukan beberapa tindakan berikut ini.
  • Pemeriksaan fisik. Dokter biasanya dapat mengidentifikasi sindrom Stevens Johnson berdasarkan sejarah medis dan pemeriksaan fisik pasien.
  • Biopsi kulit. Untuk mengonfirmasi diagnosis dan mengetahui kemungkinan lain, dokter akan mengambil sebagian kecil dari kulit untuk dites di laboratorium
  • Pemeriksaan kultur. Kultur jaringan kulit atau dari area lain seperti rongga mulut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi infeksi.
  • Pemeriksaan radiologi. Tergantung dari gejala, dokter akan melakukan pemeriksaan X-ray untuk mendeteksi pneumonia.
  • Tes darah. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi infeksi atau penyebab lain.
 
Pengobatan Sindrom Stevens Johnson dilakukan di rumah sakit oleh tim spesialis. Dokter akan menghentikan pemberian obat atau mengobati infeksi penyebab Sindrom Stevens Johnson. Dokter juga akan mencoba meringankan gejala dan mencegah infeksi dengan obat-obatan dan terapi pendukung.

Obat-obatan

  • Obat antinyeri untuk mengurangi ketidaknyamanan
  • Obat antiinflamasi untuk mengurangi peradangan pada mata dan selaput lendir, seperti steroid topikal
  • Antibiotik untuk mengontrol infeksi jika dibutuhkan
  • Steroid oral berupa imunoglobulin, dan pengobatan yang berhubungan dengan imun. Steroid ini dberikan tergantung keparahan sindrom.

Terapi pendukung

Dokter bisa merekomendasikan terapi pendukung berikut ini di rumah sakit.
  • Penggantian cairan dan nutrisi
Berbagai gejala SSJ dapat mengakibatkan hilangnya banyak cairan dari tubuh. Oleh karena itu, memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan penggantian cairan adalah bagian penting dari perawatan. Pasien juga akan menerima cairan nutrisi melalui selang yang dimasukkan ke dalam hidung dan diarahkan ke perut (selang nasogastrik).
  • Perawatan luka
Kompres dingin dapat membantu meredakan lecet pada kulit. Petugas kesehatan biasanya mengoleskan petroleum jelly atau balutan obat yang dapat membantu mengangkat kulit mati di area luka.  
  • Perawatan mata
Paien kemungkinan juga membutuhkan perawatan khusus dari dokter spesialis mata terkait gejala SSJ yang timbul di mata. 

Komplikasi

Tanpa perawatan yang tepat, Sindrom Stevens Johnson bisa mengakibatkan komplikasi berupa:
  • Infeksi kulit sekunder (selulitis)
  • Infeksi darah (sepsis). Sepsis terjadi ketika bakteri dari infeksi memasuki pembuluh darah dan menyebar melalui tubuh. Kondisi ini mengancam nyawa
  • Gangguan mata. Ruam akibat Sindrom Stevens Johnson dapat memicu peradangan mata dan mata kering, bahkan kebutaan
  • Gangguan fungsi paru, seperti gagal napas akut
  • Kerusakan kulit permanen. Setelah mengalami SSJ, kulit yang mengelupas dapat tumbuh kembali, tapi disertai dengan jaringan parut, benjolan, atau warna yang abnormal. Selain itu, kondisi ini juga berisiko menyebabkan kerontokan rambut serta gangguan pertumbuhan kuku
Baca jawaban dokter: Bagaimana cara mengobati gatal secara alami? 
Apabila Anda pernah mengalami sindrom Stevens Johnson, hindari obat yang memicunya. Termasuk jika ada riwayat SSJ dalam keluarga. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengtahui obat-obatan yang dikonsumsi saat terkena SSJ sebelumnya. 
Sindrom Stevens Johnson membutuhkan perhatian medis secepatnya. Carilah pertolongan medis jika mengalami tanda dan gejala dari kondisi ini. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa yang menyebabkan kondisi ini?
    • Bagaimana cara mencegah reaksi ini di masa depan?
    • Larangan apa yang perlu saya ikuti?
    • Saya punya kondisi medis lain. Bagaimana cara saya mengontrol mereka bersamaan?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
 Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait sindrom Stevens Johnson?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis sindrom Stevens Johnson agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stevens-johnson-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20355942
Diakses pada 1 Desember 2020
WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/qa/how-is-stevensjohnson-syndrome-treated
Diakses pada 3 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/stevens-johnson-syndrome
Diakses pada 1 Desember 2020
Myclevelandclinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17656-stevens-johnson-syndrome
Diakses pada 1 Desember 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email