Psikologi

Skizofrenia Paranoid

Diterbitkan: 27 Oct 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia paranoid bisa mempengaruhi perasaan, pemahaman, hingga pola pikir penderita
Skizofrenia paranoid adalah salah satu jenis skizofrenia. Gejala utamanya berupa halusinasi melalui pendengaran dan delusi berkepanjangan.Penderita skizofrenia paranoid akan selalu curiga terhadap orang lain. Penderita juga sulit membedakan kejadian nyata dan halusinasi.Delusi pada penderita dapat membuatnya merasa bahwa orang lain memperhatikan atau mencoba melukainya. Kondisi ini juga dapat membuat pengidap meyakini bahwa media (seperti televisi atau internet) mengirimkan pesan khusus untuknya.Perasaan dan kepercayaan tersebut membuat penderita merasa takut serta cemas, mengganggu rutinitas, dan membatasi penderita dalam bekerja maupun berinteraksi dengan orang lain, termasuk keluarga.Skizofrenia paranoid dapat dialami seumur hidup, dan biasanya muncul pada usia dewasa muda atau akhir masa remaja.  
Skizofrenia Paranoid
Dokter spesialisPsikolog
GejalaDelusi, halusinasi, gangguan perilaku
Faktor risikoFaktor genetik, kelainan otak, perpisahan atau kehilangan orangtua pada usia muda
Metode diagnosisTanya jawab riwayat medis, tes darah, evaluasi psikiatris
PengobatanObat-obatan, terapi psikososial atau terapi kelompok, rawat inap
ObatObat antipsikotik
KomplikasiGangguan kecemasan, depresi, bunuh diri
Kapan harus ke dokter?Gejala skizofrenia paranoid, perubahan perilaku
Gejala utama skizofrenia adalah delusi dan halusinasi yang paranoid. Berikut penjelasannya:

1. Delusi (waham)

Delusi atau waham adalah kepercayaan terhadap hal tertentu yang tampak nyata bagi pasien, padahal hal tersebut sebenarnya terbukti tidak benar. Beberapa jenis delusi yang paling umum meliputi:
  • Waham kendali (delusions of control)

Penderita percaya bahwa mereka dikendalikan oleh kekuatan dari luar diri mereka, seperti pemerintah atau alien.
  • Waham kebesaran (delusions of grandeur)

Penderita menyakini bahwa ia memiliki kemampuan, kekayaan, atau jabatan yang penting.
  • Waham kejar (delusions of persecution)

Penderita percaya bahwa orang lain meneror atau akan menangkapnya.
  • Waham rujukan (delusions of reference)

Penderita percaya bahwa semua tindakan orang lain ditujukan untuknya.Delusi pada penderita skizofrenia paranoid biasanya bersifat paranoid, yaitu berupa waham kejar (delusions of persecution). Jenis delusi ini membuat pasien merasakan ketakutan dan cemas bersamaan dengan ketidakmampuan membedakan hal yang nyata dan yang bukan.Waham kejar dapat membuat pasien merasa:
  • Orang lain berusaha melukainya, seperti meracuni makanannya
  • Kekasih atau pasangannya berselingkuh
  • Pemerintah mematai-matainya
  • Tetangga sekitar rumah berkomplot untuk mempermalukannya

2. Halusinasi

Halusinasi adalah gangguan persepsi yang membuat penderita mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Misalnya, pasien mendengar suara-suara yang menertawakan atau menghinanya.Suara-suara tersebut juga dapat menyuruh penderita melukai diri sendiri. Gejala ini akan terasa makin parah ketika pengidap mengasingkan diri dari orang-orangg di sekitarnya.

3. Gejala lainnya

Selain delusi dan halusinasi, gejala skizofrenia paranoid lainnya bisa berupa:
  • Gangguan bicara

Pengidap bisa mengulang-ulang kata atau frasa tertentu serta berbicara di tengah-tengah kalimat atau membuat kata-kata sendiri. Gejala ini disebabkan oleh gangguan konsentrasi yang umum dialami oleh pasien skizofrenia.
  • Gangguan perilaku

Gangguan ini ditandai dengan ketidakmampuan mengendalikan perilaku dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari bidang pekerjaan hingga sosial.Pasien dapat mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, mengendalikan keinginan, menjaga emosi dan perasaan, serta menahan perilaku yang tidak pantas atau dianggap aneh.
  • Gejala negatif

Gejala negatif dapat berupa hilangnya minat untuk melakukan hobi yang biasanya menyenangkan, emosi dan ekspresi wajah yang datar, dan sikap tidak tertarik terhadap apapun.
  • Pikiran bunuh diri

Pikiran atau perilaku bunuh diri muncul pada penderita skizofrenia yang tidak mendapatkan penanganan. 
Hingga saat ini, penyebab skizofrenia paranoid belum diketahui secara pasti. Ada kemungkinan bahwa penyakit ini bersifat genetik karena diturunkan dalam keluarga.Akan tetapi, tidak semua orang dengan anggota keluarga skizofrenia dapat mengalami penyakit ini. Selain itu, tidak semua penderita skizofrenia pasti akan mengalami gejala paranoid. 

Faktor risiko skizofrenia paranoid

Selain keturunan, faktor-faktor di bawah ini juga diduga berperan dalam meningkarkan risiko skizofrenia paranoid:
  • Kelainan otak
  • Perpisahan atau kehilangan orangtua pada usia muda
  • Terpapar virus selama masih bayi atau sebelum lahir
  • Penganiayaan di masa kecil
  • Kadar oksigen rendah saat lahir
 
Diagnosis skizofrenia paranoid dapat dipastikan melalui beberapa pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Pertama-tama, dokter akan melakukan tanya jawab untuk memeriksa gejala serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Kriteria diagnosis penyakit ini adalah pasien yang mengalami gejala skizofrenia paranoid terus-menerus dalam enam bulan atau lebih.Dokter akan mendiagnosis skizofrenia bila gejala-gejala yang dialami oleh pasien, tidak dapat dijelaskan oleh kondisi medis lain. Misalnya, kecanduan narkotika atau alkohol, maupun gangguan emosi.
  • Tes darah atau tes laboratorium lain

Tes darah atau pemeriksaan penunjang lain dilakukan untuk mencari penyebab gejala dan gangguan perilaku yang dialami oleh pasien. Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah uji narkotika.
  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik bertujuan mengecek kondisi kesehatan pasien secara umum.
  • Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan dilakukan untuk mencari penyebab gejala dan gangguan perilaku yang dialami pasien. Contohnya, CT scan otak. Pasalnya, kondisi seperti tumor otak dapat menyebabkan gejala masalah kejiwaan tertentu.
  • Evaluasi psikiatris

Evaluasi psikiatris dilakukan oleh dokter guna menggali lebih dalam mengenai gejala pasien. 
Cara mengobati skizofrenia paranoid umumnya tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Beberapa metode penanganan yang dapat dianjurkan meliputi:

1. Obat-obatan

Pemberian obat-obatan jenis antipsikotik dapat meringankan gejala utama seperti delusi dan halusinasi. Obat-obatan ini bekerja dengan mengendalikan kadar dopamin di dalam otak.Pilihan obat antipsikotik yang diresepkan oleh dokter bisa berupa chlorpromazine, fluphenazine, haloperidol, dan perphenazine. Dokter juga dapat meresepkan obat jenis lain, seperti obat anticemas dan antidepresi.Pada beberapa pasien, efek obat dapat dirasakan dengan cepat. Sementara pada sebagian pasien lain, efeknya baru muncul hingga 3-6 minggu pengobatan. Namun umumnya, efek optimal obat-obatan ini memerlukan waktu hingga 12 minggu penggunaan.Karena digunakan dalam waktu lama, efek samping obat antipsikotik di bawah ini perlu diketahui:
  • Pusing
  • Rasa lelah dan mengantuk
  • Mulut kering
  • Mual
  • Muntah
  • Gerakan yang tidak terkendali
  • Gangguan penglihatan
  • Berat badan meningkat

2. Terapi psikososial atau terapi kelompok

Terapi psikososial atau terapi kelompok bersama orang lain yang memiliki pengalaman serupa dapat dijalani oleh pasien. Terapi ini akan membangun rasa kebersamaan dan saling membantu dalam memerangi skizofrenia paranoid.Dalam terapi, pasien akan mempelajari berbagai hal mengenai manajemen stres dan pengelolaan perhatian. Tanda bahaya yang perlu dikomunikasikan pada dokter dan orang terdekat juga akan diinformasikan.

3. Rawat inap

Jika penderita berpotensi membahayakan dirinya maupun orang lain, rawat inap di klinik atau rumah sakit akan diperlukan. Langkah ini juga berguna bagi penderita yang sudah tidak bisa melaksanakan rutinitasnya dengan mandiri, seperti berpakaian, makan, atau mengurus rumah. 

Tips untuk penderitas skizofrenia paranoid

Ada beberapa tips yang dapat dierhatikan oleh pasien:
  • Mengelola stres

Hindari situasi yang dapat meningkatkan stress dan kecemasan. Pastikan pasien memiliki waktu untuk relaksasi. Pasien dapat membaca, meditasi, atau berjalan santai.
  • Mengonsumsi makanan yang sehat

Mengonsumsi sayuran dan menghindari makanan kemasan dapat meningkatkan tenaga dan membuat pasien lebih sehat.
  • Berolahraga secara rutin

Berolahraga rutin dan aktif secara fisik akan meningkatkan serotonin, zat kimia dalam otak yang dapat membuat pasien merasa senang.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan sosial

Mengikuti kegiatan sosial dapat mencegah pasien terisolasi yang dapat memperberat gejala.
  • Tidur cukup

Kurang tidur dapat membuat pasien lebih paranoid dan memperberat gejala delusi maupun halusinasi. Karena itu, cukup tidur sangat diperlukan.
  • Menghindari kebiasaan yang tidak sehat

Hindari merokok, konsumsi alkohol, dan penggunaan obat-obatan terlarang. 

Tips untuk orang-orang di sekitar penderita skizofrenia paranoid

Bila Anda memiliki keluarga dengan skizofrenia paranoid atau harus merawat penderita, beberapa hal berikut dapat Anda lakukan untuk membantu pasien:
  • Membujuk penderita untuk menjalani pengobatan

Gejala skizofrenia bisa sangat berat hingga penderita mungkin tidak mampu mencari bantuan medis sendiri. Karena itu, orang-orang di sekitarnya perlu waspada dan membujuknya untuk berobat.Hubungi dokter dan jelaskan semua gejala yang dialami oleh pasien. Dokter akan mengajukan sederet pertanyaan terkait perubahan perilaku pasien.
  • Mencari informasi sebanyak mungkin

Bekali diri Anda dengan informasi sebanyak-banyaknya mengenai skizofrenia paranoid agar bisa membantu pasien ketika dibutuhkan. Namun ingatlah untuk mencari informasi ini dari sumber yang terpercaya, terutama dokter.
  • Memastikan pasien menjalani kontrol rutin ke dokter

Pasien dengan skizofrenia dapat merasa kesulitan untuk menjalani pemeriksaan rutin ke dokter atau psikolog. Anda bisa membantunya dengan menuliskan jadwal konsultasi di kalender atau mencantumkannya dalam ponsel.
  • Mencarikan terapi kelompok untuk pasien

Penderita skizofrenia paranoid dapat merasa terisolasi karena memiliki delusi berat yang membuatnya sulit bersosialisasi. Terapi berkelompok (support group) bisa membantu dalam mengurangi masalah ini.
  • Mengetahui gejala dan persepsi pasien

Anda mungkin sering tidak memahami gejala yang dialami oleh pasien, jadi pastikan Anda memerhatikan dan mencari tahu informasinya. Ibgatlah bahwa Anda tidak boleh mengejek atau menganggap enteng meski keluhan pasien tampak ringan.
  • Terus memberikan dukungan

Hal paling penting yang dapat Anda berikan pada penderita adalah dukungan. Dengan ini, ia lebih bersemangat dalam menjalani pengobatan.Perlu diingat pula bahwa gejala skizofrenia dapat hilang dan timbul dan penanganan membutuhkan waktu yang cukup lama. Tetapi metode pengobatan yang cocok umumnya dapat memberikan hasil yang optimal. 

Komplikasi skizofrenia paranoid

Bila tidak ditangani dengan saksama, skizofrenia paranoid dapat menyebabkkan komplikasi berupa:
 
Karena penyebabnya belum diketahui, cara mencegah skizofrenia paranoid juga tidak tersedia. Akan tetapi, faktor risiko penyakit ini dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal berikut:
  • Mengelola tingkat stres, serta menghindari situasi yang meningkatkan stres dan kecemasan Anda. Pastikan Anda meluangkan waktu untuk relaks, meditasi, atau jalan santai.
  • Berolahraga secara teratur, untuk meningkatkan hormon serotonin pada otak
  • Tidur yang cukup, untuk mencegah paranoid, delusi dan halusinasi 
  • Menghindari perilaku tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, dan narkoba
  • Mengonsumsi makanan yang sehat, untuk meningkatkan energi dan membuat Anda merasa lebih baik
  • Tetap bersosialisasi, untuk mengurangi perasaan terisolasi, dan mencegah gejala memburuk
 
Konsultasikan dengan dokter jika ada orang-orang terdekat Anda yang mengalami gejala skizofrenia paranoid. Penderita kerap tidak menyadari kondirinya, sehingga orang-orang di sekitarnya perlu waspada ketika penderita mengalami perubahan perilaku maupun gangguan dalam aktivitas sehari-hari. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang di rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Meminta keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait skizofrenia paranoid?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar pasien yang mengalami gejala sama?
  • Apakah pasien sudah mencari pertolongan medis? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis skizofrenia paranoid. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/schizophrenia/paranoid-schizophrenia
Diakses pada 1 Maret 2019
WebMD. https://www.webmd.com/schizophrenia/qa/what-is-paranoid-schizophrenia
Diakses pada 1 Maret 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/288259-overview
Diakses pada 1 Maret 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/192621
Diakses pada 27 Oktober 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443
Diakses pada 20 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email