Penyakit Lainnya

Stenosis Spinal

Diterbitkan: 13 Jan 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Stenosis Spinal
Stenosis spinal adalah kondisi penyempitan tulang belakang yang dapat menyebabkan tekanan pada saraf dan terasa nyeri.
Tulang belakang atau spinal adalah sekumpulan tulang yang disebut vertebra. Tulang belakang memberikan stabilitas dan sokongan tubuh bagian atas. Hal ini memungkinkan manusia untuk berbalik dan berputar. Tulang belakang menjaga saraf tulang belakang, yang memungkinkan untuk berdiri dan membungkuk. Stenosis spinal menyebabkan penyempitan pada tulang belakang. Penyempitan ini menimbulkan tekanan pada saraf dan bisa menyakitkan.Stenosis spinal seringkali terjadi pada orang berusia lebih dari 50 tahun. Orang berusia lebih muda dengan cedera tulang belakang atau penyempitan saluran (kanal) tulang belakang  juga memiliki risiko terkena penyakit ini. Penyakit seperti arthritis dan skoliosis dapat juga menyebabkan stenosis spinal.Beberapa orang dengan stenosis spinal mengalami gejalanya. Sementara itu, yang lainnya dapat mengalami rasa sakit, kesemutan, mati rasa dan kelemahan otot. Gejala dapat semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Penanganannya dilakukan berdasarkan beratnya dampak stenosis spinal pada kualitas hidup pasien.
Stenosis Spinal
Dokter spesialis Ortopedi, Saraf
GejalaNyeri punggung bawah dan leher, mati rasa pada tangan, lengan, kaki atau telapak kaki
Faktor risikoCacat lahir pada tulang belakang, wanita, usia 50 tahun ke atas
Metode diagnosisRontgen, MRI, CT scan atau CT myelogram
PengobatanObat-obatan, fisioterapi, operasi
ObatParacetamol, aspirin, naproxen
KomplikasiMati rasa, kelemahan tubuh, dan gangguan keseimbangan yang permanen
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala stenosis spinal
Banyak orang memiliki stenosis spinal yang terlihat pada MRI atau CT scan, tapi mungkin tidak mengalami gejala karena penyempitan yang terjadi adalah minimal. Biasanya gejala timbul secara bertahap dan memburuk seiring berjalannya waktu, akibat saraf yang makin tertekan. Gejala stenosis spina tergantung dari lokasi stenosis dan saraf yang terdampak.Stenosis spinal pada leher (tulang belakang bagian servikal):
  • Mati rasa atau kesemutan pada tangan, lengan, kaki atau telapak kaki
  • Kelemahan pada tangan, lengan, kaki atau telapak kaki
  • Masalah pada keseimbangan dan kemampuan berjalan
  • Sakit pada leher
  • Dalam kasus yang berat, muncul gangguan dalam mengontrol buang air besar dan buang air kecil (inkontinensia)
Stenosis spinal pada punggung bagian bawah (tulang belakang bagian lumbar):
  • Mati rasa atau kesemutan pada kaki
  • Kelemahan pada kaki
  • Sakit atau kram pada salah satu maupun kedua kaki ketika berdiri untuk waktu yang lama, ketika berjalan, yang biasanya membaik ketika membungkuk ke depan atau duduk
  • Sakit pada punggung
 
Penyebab paling umum dari stenosis spinal adalah proses penuaan. Proses degenerasi terjadi pada seluruh tubuh seiring bertambahnya usia.Jaringan dari tulang belakang akan mulai menebal, kemudian tulang akan membesar, sehingga menekan saraf. Kondisi seperti osteoarthritis (arthritis yang terjadi karena ke”ausan” sendi) dan rheumatoid arthritis, juga dapat berkontribusi terhadap stenosis spinal. Peradangan yang terjadi dapat menyebabkan tekanan pada saraf tulang belakang.Berikut ini kondisi-kondisi yang berpotensi mengakibatkan stenosis spinal:
  • Cacat tulang belakang cacat saat lahir
  • Saraf tulang belakang yang menyempit
  • Skoliosis (kelengkungan tulang belakang yang abnormal berbentuk S)
  • Penyakit Paget yang menyebabkan penghancuran dan pertumbuhan ulang dari tulang yang abnormal
  • Tumor tulang
  • Achondroplasia yang menyebabkan dwarfisme
 
Untuk mendiagnosis stenosis spinal, dokter akan mengajukan pertanyaan mengenai tanda dan gejala, serta melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien. Dokter akan melakukan beberapa tes pencitraan berikut ini untuk membantu mengetahui penyebab dari gejala yang muncul.
  • Rontgen tulang belakang untuk melihat perubahan tulang yang bisa mempersempit ruang dari kanal tulang belakang
  • MRI untuk mendeteksi lokasi saraf yang tertekan, kerusakan sendi dan ligamen, serta ada tidaknya tumor
  • CT scan atau CT myelogram yang dapat menunjukkan herniasi cakram tulang belakang, bone spurs (osteofit) pada ujung vertebra, dan tumor
 
Cara mengobati stenosis spinal akan tergantung dari lokasi dan tingkat keparahan gejala. Obat-obatan, terapi fisik, dekompresi, dan operasi, bisa menjadi pilihan penanganan. Berikut penjelasannya:

Obat-obatan

Untuk mengobati peradangan dan sakit, dokter akan merekomendasikan obat yang dijual bebas seperti acetaminophen, aspirin, naproxen dan ibuprofen. Jika tidak membantu, dokter akan memberikan suntikan steroid pada saraf tulang belakang untuk meringankan peradangan dan sakit. Obat anestetik bisa menjadi pilihan lain untuk mengehentikan sakit pada area yang terinfeksi

Terapi fisik

Seseorang dengan stenosis spinal umumnya kurang aktif berupaya meredakan sakit. Sebab, para penderita stenosis spinal mengalami kelemahan otot, yang menyebabkan sakit lebih berat. Dalam kondisi ini, terapi fisik bisa bermanfaat untuk:
  • Membangun kekuatan dan daya tahan
  • Menjaga fleksibilitas dan stabilitas tulang belakang
  • Meningkatkan keseimbangan

Prosedur dekompresi

Prosedur ini menggunakan alat yang seperti jarum untuk mengangkat bagian dari ligamen yang menebal pada bagian belakang kolum tulang belakang. Tujuannya, untuk melebarkan ruangan pada kanal tulang belakang dan mengangkat akar saraf yang terjepit.Prosedur ini disebut percutaneous image-guided lumbar decompression  (PILD), atau yang sebelumnya disebut minimally invasive lumbar decompression (MILD).

Operasi

Operasi bisa ditempuh jika pengobatan lain tidak membantu, atau jika menjadi terbatas karena gejalanya. Salah satu tujuan operasi adalah untuk meringankan tekanan pada saraf tulang belakang atau akar saraf, dengan menciptakan lebih banyak ruang di kanal tulang belakang. Pembedahan untuk dekompresi area stenosis adalah cara paling pasti untuk mengatasi gejala dari stenosis spinal.Prosedur operasi lain yang dapat dilakukan, meliputi tindakan-tindakan medis berikut ini.
  • Laminektomi

Laminektomi dilakukan dengan mengangkat bagian belakang vertebra (lamina) yang terdampak. Operasi ini bertujuan mengurangi tekanan pada saraf.Pada beberapa kasus, vertebra yang terdampak mungkin perlu ditautkan pada vertebra yang berdampingan dengan perangkat keras, yang terbuat dari logam dan cangkok tulang (fusi spinal).Fusi spinal dilakukan untuk mempertahankan kekuatan dari tulang belakang. Prosedur ini biasanya dianjurkan pada kasus stenosis spinal berat, terutama ketika beberapa tingkat dari tulang belakang terlibat.
  • Laminotomi

Prosedur ini hanya mengangkat sebagian dari lamina, dengan membuat lubang yang cukup besar untuk mengurangi tekanan pada saraf di titik tertentu.
  • Laminoplasti

Prosedur ini hanya dilakukan di vertebra servikal (pada leher).
  • Operasi minimal invasi

Operasi ini dilakukan dengan mengangkat lamina atau tulang dengan cara tertentu, untuk mengurangi kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya, sehingga kebutuhan untuk dilakukannya fusi spinal berkurang. 

Komplikasi stenosis spinal

Meskipun jarang, komplikasi stenosis spinal dapat terjadi pada kondisi yang berat dan tidak ditangani. Komplikasi stenosis spinal tersebut antara lain:
  • Mati rasa yang menetap
  • Kelemahan tubuh yang menetap
  • Gangguan keseimbangan yang menetap
  • Inkontinensia (ketidakmampuan menahan buang air kecil atau buang air besar)
  • Paralisis (kelumpuhan anggota gerak)
 
Karena kebanyakan penyebabnya melibatkan penuaan dan ‘keausan’ sendi, cara mencegah stenosis spinal belum tersedia. Tapi beberapa langkah di bawah ini bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serta memperlambat perkembangan penyakit ini:
  • Mengonsumsi makanan yang sehat dan menjaga berat badan ideal
  • Tidak merokok
  • Menjaga postur tubuh yang baik
  • Berolahraga
 
Periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala stenosis spinal. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
  
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait stenosis spinal?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis stenosis spinal. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/spinal-stenosis#causes
Diakses pada 11 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-stenosis/diagnosis-treatment/drc-20352966
Diakses pada 11 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/spinalstenosis.html
Diakses pada 11 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/back-pain/treatments-for-spinal-stenosis#1
Diakses pada 11 Desember 2018
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17499-spinal-stenosis
Diakses pada 13 Januari 2021
American College of Rheumatology. https://www.rheumatology.org/I-Am-A/Patient-Caregiver/Diseases-Conditions/Spinal-Stenosis
Diakses pada 131 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email