Infeksi

TBC (Tuberkulosis)

Diterbitkan: 08 Oct 2020 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image TBC (Tuberkulosis)
Tuberkulosis atau TBC dapat menular melalui batuk, bersin, berbicara, atau meludah
Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang juga sering disingkat TB ini biasanya menyerang paru-paru.Di Indonesia sendiri, TBC merupakan satu dari 10 penyebab kematian tertinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada 842.000 kasus TBC pada tahun 2018.Terdapat dua jenis infeksi TBC, yaitu TB aktif dan TB laten. Berikut penjelasannya:
  • TB aktif

TB aktif adalah tuberkulosis yang menyebabkan gejala dan menular. Beberapa gejala umumnya meliputi batuk lebih dari tiga minggu, keringat di malam hari, nyeri dada, dan penurunan berat badan.Pengidap TB aktif dapat menularkan bakteri pada orang lain melalui percikan ludah ketika batuk, bersin, atau berbicara.
  • TB laten

Pada TB laten, penderita tidak menunjukkan gejala dan tidak merasa sakit. Bakteri tuberkulosis bersifat tidak aktif (dorman) di dalam tubuh pengidap. Karena itu, penderita tidak bisa menularkannya pada orang lain. Namun TB laten bisa saja berubah menjadi TB aktif di kemudian hari, sehingga dapat menular ke orang lain. Jadi penyakit TBC ini tetap perlu diobati.Apabila mencurigai bahwa Anda telah terpapar bakteri TBC, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter. Tapi sebelum Anda panik, penting untuk mengingat bahwa paparan bakteri tidak berarti Anda otomatis langsung sakit dan bisa menularkannya pada orang lain.Jika sistem kekebalan tubuh Anda sehat dan berfungsi dengan baik, bakteri TBC bisa saja menjadi tidak aktif (TB laten).Pengobatan TBC umumnya memerlukan waktu yang cukup lama. Penderita TB aktif maupun laten mesti menjalani pengobatan secara rutin setidaknya selama enam hingga sembilan bulan.Sangat penting bagi penderita untuk mengikuti petunjuk dokter dalam pengobatan TBC, agar bisa sembuh total dan infeksi tidak berulang.Apabila infeksi TBC kembali terjadi, bakteri kemungkinan besar sudah resisten terhadap antibiotik yang sebelumnya digunakan. Akibatnya, kondisi resistensi antibiotik ini akan jauh lebih sulit untuk ditangani. 
TBC (Tuberkulosis)
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Paru
GejalaBatuk kronis lebih dari 2 minggu, keringat malam, nyeri dada dan penurunan berat badan secara drastis.
Faktor risikoAnak-anak, penderita HIV/AIDS, lansia
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah TB, tes kulit TB, rontgen
PengobatanAntibiotik
ObatIsoniazid, rifampicin, ethambutol
KomplikasiPenyebaran bakteri TBC ke organ lain
Kapan harus ke dokter?Batuk kronis, demam, keringat malam
Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri tuberkulosis pasti akan sakit dan mengalami gejala tBC. Sistem kekebalan tubuh biasanya dapat mencegah Anda jatuh sakit.Tuberkulosis yang bergejala adalah TB aktif. Sementara TB laten biasanya tanpa gejala. Berikut penjelasannya:

Gejala TB aktif

Penderita TB aktif biasanya akan memiliki gejala gangguan pernapasan. Pasalnya, bakteri penyebab tuberkulosis lebih umum menyerang paru-paru. Penderita TB jenis ini juga dapat menularkannya pada orang lain.Secara umum, gejala TBC atau tuberkulosis aktif meliputi:
  • Batuk berkepanjangan, baik berdahak maupun tidak berdahak, yang berlangsung selama tiga minggu atau lebih
  • Batuk darah
  • Nyeri dada atau nyeri saat bernapas
  • Batuk-batuk
  • Berkeringat di malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Kelelahan
  • Demam
  • Badan panas-dingin
  • Kehilangan nafsu makan
Tuberkulosis juga dapat memengaruhi bagian lain tubuh, termasuk tulang, usus, ginjal, kelenjar getah bening, dan otak. Gejala TBC akan bervariasi sesuai dengan organ yang terinfeksi. Sebagai contoh, gejala TBC tulang dapat mencakup nyeri punggung, pembengkakan di sekitar tulang belakang, dan rasa kaku. Sementara gejala TBC usus bisa berupa sering mual dan kembung, serta penurunan nafsu makan secara drastis.

Gejala TB laten

Pada sebagian orang yang terinfeksi, bakteri TB bisa tetap tidak aktif (dorman) dan tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini disebut TB laten, TB tidak aktif, atau infeksi TB tidak menular.Karena tanpa gejala, TB laten hanya akan diketahui melalui pemeriksaan medis seperti tes darah atau tes Mantoux.Deteksi dan pengobatan yang tuntas tetap penting untuk pengidap TB laten. Pasalnya, bakteri bisa menjadi aktif di kemudian hari saat kekebalan tubuh penderita menurun.

Gejala TBC pada anak

Karena daya tahan tubuhnya yang belum berkembang sempurna, anak-anak berisiko untuk terkena TBC apabila terpapar bakteri penyebabnya. Berikut sederet gejala TBC yang perlu diperhatikan pada anak-anak:
  • Batuk yang tidak kunjug sembuh selama lebih dari dua minggu
  • Demam selama lebih dari dua minggu
  • Berat badan turun atau tidak kunjung meningkat selama dua bulan berturut-turut
  • Terlihat lesu dan kurang aktif
Biasanya pada anak-anak dapat disebabkan karena tinggal serumah dengan orang dewasa yang menderita TBC. Baca juga: Ciri-Ciri TBC Tak Hanya Batuk Berdahak 
Penyebab tuberkulosis adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan TBC bisa terjadi ketika seseorang dengan TB aktif yang batuk, bersin, berbicara atau meludah.Jika udara yang sudah terkontaminasi tersebut tidak sengaja terhirup olah seseorang, ia akan memiliki kemungkinan untuk terinfeksi TBC.Meski begitu, penularan TBC sebenarnya tidak semudah penyakit flu, apalagi pada orang dengan kekebalan tubuh normal. Ada sejumlah faktor tertentu yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini. 

Faktor risiko TBC

Seseorang akan memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular tuberkulosis apabila:
  • Ada kontak erat dengan penderita, misalnya tinggal serumah, serta bekerja dalam ruangan yang sama, atau satu kelas
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol
  • Menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba)
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti anak-anak, lansia, serta penderita HIV
  • Mengidap diabetes
  • Mengalami kekurangan gizi atau malnutrisi
  • Mengonsumsi obat yang menurunkan kekebalan tubuh, misalnya obat kemoterapi untuk mengatasi kanker, obat penekan sistem imun (imunosupresan), serta obat untuk mengatasi arthritis, psoriasis, lupus, maupun penyakit Crohn
Berdasarkan survei prevalensi TBC di Indonesia pada tahun 2017, jumlah penderita TB laki-laki tiga kali lebih banyak daripada perempuan. Kondisi ini diperkirakan muncul karena kebiasaan merokok dan ketidakpatuhan minum obat yang lebih sering dilakukan oleh kaum pria.Pada survei tersebut juga tercantum bahwa jumlah laki-laki Indonesia yang merokok diperkirakan sebanyak 68,5 persen. Sementara wanita Indonesia yang merokok hanya sebanyak 3,7 persen.  
Diagnosis TBC umumnya ditentukan dengan cara-cara berikut ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami oleh penderita. Demikian pula dengan riwayat medis dan faktor risiko penderita.
  • Pemeriksaan fisik

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mengecek ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, dan memakai stetoskop untuk mendengarkan suara yang dihasilkan oleh paru-paru saat Anda bernapas. 
  • Tes Mantoux

Tes Mantoux dilakukan dengan menyuntikkan zat tuberkulin ke lapisan kulit, lalu dokter akan melihat reaksi kulit terhadap zat tersebut pada 48-72 jam kemudian.Di Indonesia, pemeriksaan dengan nama lain uji tuberkulin ini umumnya dianjurkan untuk anak-anak. Pasalnya, mereka jarang menghasilkan dahak sehingga sulit menjalani tes dahak.Hasil positif uji tuberkulin menunjukkan adanya infeksi. Sebaliknya, hasil negatif belum tentu menyingkirkan diagnosis TBC. Karena itu, perlu pemeriksaan penunjang lebih lanjut.
  • Tes darah

Tes darah lebih umum digunakan oleh dokter untuk mendeteksi ada tidaknya bakteri TB dalam tubuh pasien. Biasanya akan diperiksa Laju Endap Darah (LED) untuk melihat infeksi dalam tubuh. Pasalnya, pemeriksaan ini lebih efektif sebagai proses diagnosis.
  • Rontgen dada dan tes dahak

Apabila hasil tes kulit atau tes darah menunjukkan hasil positif, dokter biasanya akan merujuk pasien untuk melakukan rontgen dada dan tes sputum (dahak). Khususnya pada orang dewasa.Tes-tes ini bisa memastikan diagnosis TB laten maupun TB aktif, dan memudahkan dokter dalam menentukan jenis pengobatan yang diperlukan.Baca jawaban dokter: Apa tanda TBC sudah sembuh? 
Cara mengobati TBC yang utama adalah obat antibiotik. Pasalnya, penyakit ini terjadi karena adanya infeksi bakteri.Namun jenis obat TBC dan durasi penanganannya akan tergantung pada usia dan kondisi kesehatan pasien, jenis TB, serta risiko resistensi antibiotik. Berikut langkah pengobatan TBC berdasarkan jenis penyakitnya:

1. Pengobatan TB laten

TB laten bisa berkembang menjadi TB aktif yang bergejala dan menular, sehingga tetap perlu diobati. Dokter biasanya memberikan tiga pilihan obat antibiotik di bawah ini:
  • Isoniazid

Obat antibiotik ini paling umum diresepkan dalam penanganan TB laten. Pasien biasa perlu mengonsumsi isonazid setiap hari selama sembilan bulan.
  • Rifampicin

Rifampicin atau rifampin menjadi pilihan bila pasien tidak dapat mengonsumsi isoniazid. Obat ini perlu dikonsumsi tiap hari selama empat bulan oleh penderita.
  • Kombinasi isoniazid dan rifapentine

Kedua obat ini dapat dikonsumsi secara bersamaan, yakni satu kali seminggu dan selama tiga bulan.

2. Pengobatan TB aktif

Penderita penyakit TBC aktif perlu minum beberapa jenis antibiotik selama 6-9 bulan agar benar-benar sembuh. Jenis-jenis obat TBC yang perlu dikonsumsi meliputi:
Untuk menentukan jenis antibiotik yang cocok bagi pasien, dokter mungkin perlu melakukan tes terlebih dahulu. Melalui tes ini, dokter akan mengetahui jenis bakteri tuberkulosis yang ada di tubuh pasien.Dari hasil tes tersebut, pasien dapat diberi 3-4 jenis obat TBC yang perlu dikonsumsi selama dua bulan. Selanjutnya, jumlah obat akan dikurangi menjadi dua jenis saja dan harus diminum selama 4-7 bulan berikutnya.Pasien bisa saja merasa kondisinya lebih baik dalam beberapa minggu pertama pasca mengonsumsi obat, tapi perbaikan kondisi ini bukan berarti penyakit TBC sudah tidak menular.Karena itu, konsumsi antibiotik untuk pengidap TB aktif harus diteruskan meski kondisi pasien sudah baikan. Hanya dokter yang boleh menentukan kapan pasien boleh menghentikan konsumsi obat.

3. Pengobatan TBC akibat resistensi antibiotik

Apabila pasien mengidap jenis tuberkulosis yang tidak bisa disembuhkan dengan obat-obat TBC yang umum, ia dikatakan mengidap TBC resisten terhadap obat. Kondisi ini juga disebut resistensi antibiotik.TBC resisten antibiotik perlu ditangani dengan kombinasi obat-obatan lain, yang mungkin kurang efektif. Durasi pengobatannya juga bisa lebih lama, yaitu 20-30 bulan.Jenis obat TB resisten antibiotik yang biasa diberikan bisa berupa:
  • Antibiotik fluoroquinolone
  • Antibiotik suntik, seperti amikacin, capreomycin, dan kanamycin
  • Antibiotik lain, seperti bedaquiline, ethionamide, dan asam salisilat para-amino
Pengobatan dan penyembuhan TB ini sangat rumit. Apabila tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat berakibat fatal. Jadi sangat penting bagi pasien untuk mengikuti anjuran dokter dengan saksama. 

Efek samping obat TBC

Obat TBC bisa memengaruhi fungsi hati. Segera hubungi dokter apabila pasien mengalami hal-hal berikut setelah mengonsumsi antibiotik:
 

Angka kesembuhan penyakit TBC

Persentase kesembuhan TBS sangat bergantung pada sejumlah faktor. Mulai dari kondisi TBC dan tingkat keparahan resistensi obat, sistem kekebalan tubuh pasien, hingga kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat.Menurut data dari Kementerian Kesehatan, angka kesembuhan TBC mencapai 85 persen dengan pengobatan yang tepat. Meski begitu, kemungkinan ini bisa lebih kecil pada kondisi TBC resisten obat yang berat alias multidrug-resistant tuberculosis (MDR TB).Berdasarkan laporan dari CDC, angka kesembuhan MDR TB tercatat hanya sekitar 30-50 persen dari keseluruhan kasus.  

Komplikasi tuberkulosis

Bila tidak ditangani dengan benar, beberapa komplikasi penyakit tbc berikut dapat terjadi:
  • Penyebaran TBC ke sumsum tulang belakang yang bisa memicu rasa nyeri dan kaku di punggung
  • Penyebaran TBC ke sendi yang dapat menyebabkan radang dan kerusakan sendi
  • Penyebaran TBC ke selaput pelindung otak (meninges) yang memicu radang selaput otak atau meningitis
  • Penyebaran TBC ke ginjal dan hati
  • Penyebaran TBC ke lapisan pembungkus jantung atau perikardium yang memicu penumpukan cairan dalam rongga jantung, sehingga terjadi gangguan pompa jantung
Baca juga: Makanan untuk Mempercepat Penyembuhan TBC, Apa Saja? 
Cara mencegah penyakit tbc dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
  • Melakukan vaksinasi

Pencegahan TBC yang utama adalah dengan menerima vaksin BCG. Vaksin ini direkomendasikan sebagai imunisasi dasar pada anak dan biasanya diberikan ketika bayi berumur satu bulan.Anda bisa mencari promo vaksinasi SehatQ di fasilitas kesehatan terdekat Anda.
  • Menerapkan etika batuk dan bersin

Menerapkan etika batuk atau bersin tergolongm mudah. Contohnya, menutup hidung dan mulut, menggunakan masker atau tisu, serta tidak membuang dahak sembarangan.
  • Menjaga kebersihan

Kebersihan yang terjaga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk TBC. Misalnya, selalu mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, serta membuang masker maupun tisu di tempat sampah setelah digunakan.
  • Menerapkan gaya hidup sehat

Gaya hidup sehat yang bisa Anda lakukan meliputi tidak merokok, rutin berolahraga, serta membuka jendela untuk sirkulasi udara bersih di rumah.Penderita juga dianjurkan untuk minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter. Dengan ini, penularan TBC pada orang-orang di sekitar Anda pun bisa dicegah. 
Periksakan diri ke dokter jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami demam, berkeringat di malam hari meski tak beraktivitas, batuk yang tidak sembuh-sembuh, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Gejala-gejala ini bisa menjadi ciri-ciri TB maupun masalah medis lainnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait tuberkulosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis penyakit TBC agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/tuberculosis/ 
Diakses pada 12 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/diagnosis-treat
ment/drc-20351256
Diakses pada 12 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/lung/tuberculosis-directory
Diakses pada 12 Oktober 2018
CDC. https://www.cdc.gov/tb/publications/factsheets/drtb/xdrtb.htm
Diakses pada 7 Oktober 2020
Kementerian Kesehatan RI. http://promkes.kemkes.go.id/?p=7439
Diakses pada 7 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email