Penyakit Lainnya

Tuli

Diterbitkan: 27 Oct 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Tuli
Tuli ditandai dengan penurunan kemampuan dengar
Tuli adalah kondisi medis yang ditandai dengan berkurang atau hilangnya kemampuan mendengar suara. Derajat gangguan pendengaran ini bervariasi, dari ringan hingga sangat berat.Kondisi tuli dapat disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari cedera, penyakit, kelainan genetik, hingga faktor penuaan.Derajat ketulian atau gangguan pendengaran dinilai berdasarkan intensitas suara (desibel). Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeskripsikan disabling hearing loss sebagai gangguan mendengar di intensitas suara lebih dari 40 desibel pada dewasa dan lebih dari 30 desibel pada anak-anak.Menurut data WHO, sekitar lima persen dari seluruh penduduk dunia mengalami disabling hearing loss. Jumlah ini terdiri dari 432 juta orang dewasa dan 34 juta anak-anak.Lebih jauh lagi, WHO juga memperkirakan akan ada lebih dari 900 juta orang, atau sekitar 10 persen orang akan mengalami kondisi ini pada tahun 2050. 
Tuli
Dokter spesialis THT
GejalaSuara yang kurang jelas, sulit memahami kata-kata, meminta orang lain mengulang perkataannya
Faktor risikoPenuaan, faktor genetik, paparan suara keras
Metode diagnosisSkrining pendengaran, tes garpu tala, tes audiometri
PengobatanMengangkat kotoran telinga, operasi, pemasangan alat bantu dengar
ObatObat antibiotik bila penyebabnya infeksi bakteri
KomplikasiKesulitan komunikasi, isolasi, gangguan kognitif (berpikir)
Kapan harus ke dokter?Kemampuan dengar yang tiba-tiba hilang, masalah pendengaran yang mengganggu rutinitas
Pada awalnya, gejala tuli berupa kesulitan mendengar suara bernada tinggi. Misalnya, suara anak-anak dan wanita. Huruf S dan F juga sulit didengar dengan jelas.Selain itu, gejala tuli atau gangguan pendengaran lainnya dapat berupa:
  • Suara yang terdengar redam dan kurang jelas
  • Kesulitan memahami kata-kata, terutama saat berada di lingkungan yang berisik
  • Sulit mendengar huruf konsonan
  • Sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya dengan lebih pelan, keras, dan jelas
  • Perlu menambah volume saat menonton televisi atau mendengarkan radio
  • Menghindari percakapan dan interaksi sosial
  • Sulit mendengar percakapan di telepon
  • Sulit mengikuti pembicaraan, terutama ketika lebih dari satu orang berbicara dalam satu waktu
  • Merasa lelah atau stres karena perlu berkonsentrasi penuh saat mendengar
  • Merasa orang lain bergumam atau tidak jelas ketika berbicara
  • Sering salah memahami maksud perkataan orang lain sehingga salah merespon
  • Mendengar suara bising atau berdenging pada telinga (tinnitus)

Gejala tuli pada salah satu telinga

  • Pendengaran memburuk ketika suara datang dari salah satu sisi telinga
  • Semua suara terdengar lebih kecil dari biasanya
  • Sukar menentukan asal suara
  • Sulit membeda-bedakan suara
  • Merasa suara orang lain kurang jelas
  • Sulit mendengar di tempat bising atau jarak jauh

Gejala tuli pada anak-anak

  • Lambat dalam belajar bicara, atau bicaranya kurang jelas
  • Tidak merespons ketika dipanggil
  • Bicara dengan suara yang sangat keras
  • Meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya atau keliru memberikan respons ketika ditanya
  • Menambah volume televisi hingga terlalu keras

Gejala tuli pada bayi

  • Tidak kaget ketika mendengar suara keras
  • Tampak hanya mendengar atau merespons sebagian suara
  • Menyadari keberadaan orang lain ketika melihatnya, tapi tidak bereaksi saat namanya dipanggil
  • Tidak menoleh ke arah suara di usia empat bulan
  • Belum bisa mengucapkan kata-kata di usia 15 bulan
 
Penyebab tuli berbeda-beda dan tergantung pada jenisnya. Secara umum, tuli disebabkan oleh gangguan pada proses pendengaran. 

Proses pendengaran

Proses dengar terjadi ketika gelombang suara memasuki telinga, dialirkan dalam saluran telinga, dan mencapai gendang telinga.Gendang telinga akan bergetar. Getaran ini dialirkan ke telinga tengah, dan menyebabkan tulang-tulang pendengaran ikut bergetar. Tulang pendengaran lalu memperbesar getaran dan ditangkap oleh koklea di telinga bagian dalam.Dari koklea, getaran suara dibawa ke otak melalui serabut saraf pendengaran. Otak kemudian menginterpretasi getaran suara menjadi suara yang kita dengar. Apabila terjadi gangguan pada proses dengar tersebut, kondisi tuli bisa terjadi. 

Jenis tuli atau gangguan pendengaran

Secara umum, terdapat tiga jenis gangguan pendengaran di bawah ini:

1. Tuli konduktif

Pada tuli konduktif, gelombang suara tidak dapat dialirkan dari telinga luar ke telinga bagian dalam. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kondisi ini meliputi:
  • Kotoran telinga yang menggumpal.
  • Otitis media efusi (glue ear).
  • Infeksi telinga dengan peradangan dan penumpukan cairan dalam telinga.
  • Lubang atau kelainan pada gendang telinga. Kondisi ini juga sering disebut gendang telinga pecah.
  • Gangguan pada tulang pendengaran.
Infeksi dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut yang bisa mengurangi fungsi gendang telinga. Tulang pendengaran juga bisa mengalami kerusakan karena cedera, infeksi, atau menyatunya tulang-tulang pendengaran (ankylosis).

2. Tuli sensorineural

Tuli sensorineural disebabkan oleh kerusakan pada telinga bagian dalam. Contohnya, koklea, saraf pendengaran, maupun otak.Jenis tuli ini biasanya disebabkan oleh:
  • Faktor penuaan. Pasalnya, sel koklea yang mengalami kerusakan seiring bertambahnya usia.
  • Paparan suara nyaring dalam waktu lama. Hal ini juga dapat merusak sel-sel koklea.
  • Infeksi telinga bagian dalam.
  • Kelainan bawaan pada telinga.
  • Cedera kepala.

3. Tuli campuran

Tuli campuran merupakan kombinasi dari tuli konduktif dan sensorineural. Kondisi ini biasanya terjadi karena:
  • Penuaan

Degenerasi karena penuaan dapat merusak struktur telinga bagian dalam.
  • Paparan suara bising
Paparan suara bising dapat merusak sel-sel telinga bagian dalam. Kerusakan bisa terjadi akibat paparan dalam waktu yang lama (misalnya kebiasaan mendengarkan musik dengan volume tinggi) maupun seketika (seperti suara tembakan atau ledakan).
  • Infeksi tertentu
Penyakit infeksi virus juga dapat merusak telinga. Misalnya, meningitis, campak, dan gondongan (mumps).
  • Cedera kepala
Kerusakan telinga dalam dapat pula disebabkan cedera pada bagian kepala.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu
Lebih dari 200 jenis obat bersifat ototoksik, yakni dapat merusak telinga. Beberapa jenis obat yang bisa memicu kerusakan telinga permanen meliputi sebagian antibiotik, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), serta obat untuk kemoterapi.
  • Tumor

Contoh tumor yang dapat menyebabkan gangguan telinga adalah acoustic neuroma dan cholesteatoma.
  • Kondisi bawaan

Ketulian kongenital terjadi sejak lahir. Penyebabnya bisa berupa kelahiran prematur, diabetes pada ibu hamil, rendahnya oksigen saat bayi lahir, faktor keturunan, dan penyakit infeksi (seperti rubella) yang ditularkan dari ibu hamil pada sang bayi. 

Faktor risiko tuli

Terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko tuli. Faktor risiko tersebut meliputi:
  • Penuaan

Seiring bertambahnya usia, degenerasi pada struktur telinga akan terjadi dan dapat mengganggu pendengaran.
  • Terpapar suara keras

Paparan suara terlalu nyaring dapat merusak sel-sel di telinga bagian dalam. Kerusakan ini dapat terjadi akibat paparan suara keras dalam waktu lama atau singkat (seperti ledakan atau tembakan).
  • Faktor keturunan

DNA dapat membuat seseorang lebih rentan untuk mengalami kerusakan telinga akibat paparan suara atau proses penuaan.
  • Pengaruh profesi

Pekerjaan yang mengharuskan seseorang mendengar suara bising pun berpengaruh pada penurunan kemampuan dengar dan risiko ketulian. Contohnya, suara mesin pabrik, mesin konstruksi, dan pertanian.
  • Aktivitas berisiko

Melakukan aktivitas berisiko paparan suara keras dapat memicu gangguan pendengaran permanen. Contohnya, bunyi senjata api, mesin tenaga jet, serta bunyi saat menebang kayu.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu

Obat-obatan tertentu juga dapat merusak telinga bagian dalam. Contohnya, gentamisin, viagra, dan obat kemoterapi.Efek samping sementara berupa telinga berdenging (tinnitus) atau berkurangnya pendengaran juga bisa dialami setelah mengonsumsi aspirin, obat pereda nyeri, obat antimalaria, atau obat jenis diuretik dosis tinggi.
  • Penyakit tertentu

Penyakit yang melibatkan demam tinggi (seperti meningitis) pun dapat merusak koklea.

Baca Juga: Komplikasi Akibat Benturan Kepala: Benjol Sampai Cedera Otak

 
Untuk memastikan diagnosis tuli, dokter bisa melakukan beberapa pemeriksaan di bawah ini:
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada telinga pasien untuk mencari penyebab gangguan pendengaran. Misalnya, penumpukan kotoran telinga atau peradangan karena infeksi.Dokter juga akan mencari kelainan pada anatomi telinga pasien, yang mungkin menyebabkan ketulian.
  • Skrining pendengaran umum

Dokter dapat melakukan tes bisik untuk memeriksa respons pasien terhadap suara. Pasien akan diminta untuk menutup telinga satu per satu dan membisikkan kata dengan berbagai volume.
  • Tes pendengaran berbasis aplikasi

Tes pendengaran bisa diakses dengan mudah dari ponsel untuk memeriksa gangguan pendengaran.
  • Tes garpu tala

Garpu tala adalah alat khusus berbentuk seperti garpu berbahan dasar logam. Tes pedengaran dengan garpu tala dapat membantu dokter dalam mendeteksi ketulian.
  • Tes audiometri

Dalam pemeriksaan audiometri, pasien akan menggunakan earphone. Mesin audiometri kemudian memperdengarkan suara dengan berbagai nada dan intensitas melalui earphone tersebut. 

Derajat tuli

Melalui pemeriksaan medis, dokter akan menilai derajat ketulian atau gangguan pendengaran. Tingkat keparahan ini dinilai berdasarkan intensitas suara (desibel) dengan detail sebagai berikut:
  • Normal: 0-25 dB
  • Ringan: 25-40 dB
  • Sedang: 41-65 Db
  • Berat: 66-90 dB
  • Sangat berat: Lebih dari 90 dB
Pasien dengan tuli derajat ringan biasanya mengalami masalah untuk memahami perkataan orang lain, terutama ketika ia berada di lingkungan bising.Penderita tuli derajat ringan memerlukan alat bantu dengar. Sementara pasien dengan tuli derajat berat hanya dapat berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir.Tuli derajat sangat berat ditandai dengan penderita yang sama sekali tidak bisa mendengarkan suara, dan memerlukan bantuan gerakan bibir atau bahasa isyarat untuk berkomunikasi. 
Cara mengobati tuli dan gangguan pendengaran akan ditentukan oleh dokter berdasarkan penyebabnya. Sederet penanganan yang bisa dilakukan meliputi:
  • Mengangkat kotoran telinga

Kotoran telinga yang menyumbat saluran pendengaran akan diangkat oleh dokter dengan alat pengisap atau alat khusus lainnya.
  • Operasi

Beberapa jenis tuli dapat ditangani dengan operasi. Misalnya, kelainan pada gendang telinga atau tulang-tulang pendengaran.Bila pasien mengalami infeksi berulang dengan cairan yang terus muncul dalam telinga, dokter dapat memasukkan selang kecil untuk mengeluarkan cairan tersebut.
  • Alat bantu dengar

Jika kondisi tuli disebabkan oleh kerusakan telinga bagian dalam, dokter bisa menyarankan penggunaan alat bantu dengar.
  • Implan koklea

Pasien dengan tuli derajat berat dan tidak bisa membaik meski sudah memakai alat bantu dengar, direkomendasikan untuk menjalani implan koklea. Implan ini dapat membuat jalan pintas agar suara dapat langsung ditangkap oleh saraf-saraf pendengaran. 

Komplikasi tuli

Tuli perlu ditangani dengan saksama. Pasalnya kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya.Sebagai contoh, kalangan lanjut usia (lansia) dengan gangguan pendengaran bisa mengalami depresi karena sulitnya berkomunikasi dan isolasi sosial. Kondisi tuli juga berkaitan dengan gangguan kognitif (fungsi berpikir).Baca Juga: Implan Koklea Vs Alat Bantu Dengar Biasa, Mana yang Lebih Baik untuk Anda? 
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah tuli meliputi:
  • Lindungi telinga dari paparan suara nyaring dalam waktu lama

Membatasi durasi dan intensitas paparan suara pada telinga adalah upaya pencegahan tuli yang terbaik. Misalnya untuk Anda yang bekerja di lokasi bising, gunakan alat penutup atau penyumbat telinga untuk melindungi telinga dari paparan suara bising.Anda juga dapat melakukan proteksi kemampuan dengar dengan membatasi volume musik yang didengarkan, terutama ketika Anda memakai earphone atau headphone.
  • Lakukan pemeriksaan telinga secara berkala

Pemeriksaan kesehatan telinga sebaiknya dilakukan secara berkala, khususnya pada orang yang bekerja di lingkungan bising. Ketika kondisi tuli terdeteksi, dokter akan merekomendasikan upaya untuk mencegah kondisi ini semakin parah.
  • Hindari aktivitas berisiko

Aktivitas atau kebiasaan tertentu bisa saja meningkatkan risiko Anda untuk mengalami tuli seiring berjalannya waktu. Misalnya, berburu dengan senjata api, menghadiri konser rock band, atau menggunakan alat-alat pertukangan tertentu.Anda dapat menggunakan alat pelindung telinga atau berhenti sejenak dari aktivitas tersebut, atau menurunkan volume saat mendengarkan musik.
  • Lengkapi imunisasi

Imunisasi penting dilengkapi sejak anak-anak. Misalnya, untuk menghindari penyakit seperti campak, meningitis, rubella, dan gondongan.Dengan begitu, risiko gangguan pendengaran maupun karena penyakit tersebut juga dapat dikurangi. 
Segera berkonsultasi ke dokter THT (telinga hidung tenggorokan) bila Anda mengalami:
  • Kemampuan dengar yang hilang secara tiba-tiba, terutama pada salah satu telinga
  • Gangguan pendengaran yang menghambat rutinitas Anda
Namun ketulian akibat penuaan berlangsung secara perlahan-lahan, sehingga penderita sering tidak menyadarinya. Karena itulah, pemeriksaan telinga secara berkala dianjurkan. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Selama pemeriksaan, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda mengalami nyeri atau keluarnya cairan dari telinga?
  • Apakah gejala muncul secara tiba-tiba?
  • Apakah Anda mengalami pusing atau gangguan keseimbangan?
  • Apakah Anda memiliki riwayat cedera, infeksi, atau operasi telinga?
  • Apakah Anda bekerja di lingkungan dengan paparan suara nyaring?
  • Obat apa yang sedang Anda konsumsi?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tuli dan gangguan pendengaran agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hearing-loss/symptoms-causes/syc-20373072
Diakses pada 4 Juni 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/249285
Diakses pada 4 Juni 2020
Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/deafness-a-range-of-causes
Diakses pada 4 Juni 2020
Mayfield Clinic. https://mayfieldclinic.com/pe-hearing.htm
Diakses pada 4 Juni 2020
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/deafness-and-hearing-loss
Diakses pada 27 Oktober 2020
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/hearing-loss-causes-symptoms-treatment#1
Diakses pada 27 Oktober 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hearing-loss/symptoms/
Diakses pada 27 Oktober 2020
Healthy Hearing. https://www.healthyhearing.com/report/50276-Common-causes-of-sensorineural-hearing-loss
Diakses pada 27 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email