Perut

Usus Buntu

Diterbitkan: 01 Dec 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Usus Buntu
penyakit usus buntu adalah peradangan pada usus buntu yang disebut juga sebagai apendiks.
Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah peradangan pada usus buntu yang disebut juga sebagai apendiks.Apendiks adalah suatu kantung kecil tipis berbentuk seperti jari dengan panjang sekitar 5-10 cm yang menonjol dari usus besar di sisi kanan perut bawah. Karena lokasinya tersebut, gejala paling umum akibat peradangan apendiks adalah nyeri yang hilang-timbul di sisi kanan bawah perut.Penyakit usus buntu bisa terjadi pada setiap kalangan umur, tapi paling sering menyerang di usia 10-30 tahun, dan lebih kerap menimpa pria ketimbang wanita. Apabila tidak diobati, peradangan pada usus buntu dapat menyebabkan usus buntu pecah dan infeksi, hingga berkembang menjadi penyakit yang serius serta fatal.Pengobatan usus buntu dilakukan melalui pemberian obat-obatan dan hampir selalu membutuhkan operasi pembedahan.Baca juga: Mengenal Fungsi Usus Buntu untuk Kesehatan 
Usus Buntu
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Bedah
GejalaSakit perut kanan bawah, mual, demam
Faktor risikoRiwayat radang usus buntu dalam keluarga, usia 10-30 tahun
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, USG, 
PengobatanObat-obatan, operasi
ObatAntibiotik
KomplikasiUsus buntu pecah, kantung nanah yang terbentuk di perut
Kapan harus ke dokter?Nyeri perut kanan bawah, memiliki gejala yang mengarah usus buntu
Peradangan pada usus buntu biasanya menimbulkan rasa sakit di perut bagian tengah yang dapat hilang-timbul. Dalam beberapa jam, rasa sakit yang timbul mampu menyebar ke perut kanan bawah, tempat usus buntu berada, dan terjadi secara terus-menerus.Jika Anda mencoba untuk menekan area tersebut, batuk, atau hanya berjalan sekalipun, rasa sakit yang dirasakan bisa semakin parah. Tanda dan gejala yang dialami oleh penderita usus buntu, di antaranya:
 
Peradangan pada usus buntu terjadi saat usus buntu mengalami penyumbatan akibat tinja, benda asing, atau kanker. Selain itu, infeksi juga dapat menjadi penyebab penyumbatan karena usus buntu mengalami pembengkakan sebagai respons terhadap infeksi dalam tubuh.Apendiks yang mengalami peradangan kemudian akan membengkak hingga menghambat pasokan darah ke usus buntu dan menimbulkan berbagai gejala. 

Faktor risiko

Berbagai faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya usus buntu atau apendisitis.
  • Berusia 10-30 tahun
  • Pola hidup tidak sehat
  • Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit radang usus buntu
  • Berjenis kelamin pria
  • Menderita fibrosis kistik, terutama pada anak-anak
 
Mendeteksi peradangan pada usus buntu bisa menjadi cukup sulit karena tanda dan gejala yang ditimbulkan kurang jelas atau mirip dengan penyakit lainnya, seperti masalah kandung empedu, infeksi kandung kemih atau saluran kemih, penyakit Crohn (penyakit radang usus kronis), gastritis, infeksi usus, dan masalah ovarium (indung telur).Dokter bisa melakukan beberapa tes ini untuk memastikan dan mendeteksi penyakit usus buntu
  • Pemeriksaan fisik pada perut
  • CT scan dan/atau USG
  • Tes hitung darah lengkap, untuk mengetahui kemungkinan infeksi bakteri
  • Tes urine untuk menyingkirkan kemungkinan lain yang menyebabkan gejala, seperti infeksi pada saluran kemih
  • Tes kehamilan untuk memastikan bahwa gejala penyakit bukan berasal dari kehamilan ektopik
  • CT scan dan/atau USG
 
Bergantung pada kondisi pasien, rencana perawatan yang direkomendasikan dokter untuk radang usus buntu mungkin mencakup satu atau lebih dari perawatan berikut ini:
  • Operasi untuk mengangkat usus buntu
  • Drainase jarum (mengeringkan cairan) atau pembedahan untuk mengeringkan abses (kantung nanah akibat infeksi)
  • Pemberian antibiotik
  • Pemberian obat pereda nyeri
  • Infus cairan tubuh dan nutrisi
Jika pasien memiliki abses yang belum pecah, dokter mungkin akan menangani abses tersebut sebelum menjalani operasi. Langkah ini dilakukan dengan pemberian antibiotik terlebih dahulu dan kemudian mengeringkan nanah dari abses menggunakan jarum atau pembedahan.Dalam kasus yang jarang terjadi, radang usus buntu bisa sembuh tanpa operasi. Namun pada banyak kasus, pasien memerlukan operasi pengangkatan usus buntu yang dikenal sebagai apendektomi.

Appendectomy 

Ada dua teknik operasi usus buntu, yaitu bedah terbuka dan laparoskopi. Berikut ini penjelasannya.
  • Teknik bedah terbuka

Pada operasi ini, dokter akan membuat sayatan sebesar 5-10 cm di perut bagian bawah kanan. Usus buntu kemudian diangkat melalui sayatan tersebut. Apabila usus buntu sudah pecah, dokter akan memasang tabung kecil yang dinamakan shunt untuk mengeluarkan nanah dan cairan lain di perut. Shunt akan diangkat beberapa hari setelah operasi jika infeksi sudah dinyatakan hilang.
  • Laparoskopi

Laparoskopi merupakan teknik operasi yang lebih baru tanpa membuat sayatan besar dalam pengerjaannya. Teknik operasi ini hanya memerlukan 1-3 buah sayatan kecil.Dokter akan memasukkan alat bernama laparoskop ke dalam salah satu sayatan tersebut. Bagian ujung laparoskop ini memiliki instrumen bedah dan kamera. Gambar dari kamera akan ditampilkan pada layar dan dokter akan melakukan proses pengangkatan usus buntu dengan panduan gambar tersebut.Baca juga: Ini Dia Pantangan Makanan Setelah Operasi Usus Buntu 

Komplikasi

Tanpa penanganan yang tepat, radang usus buntu dapat menyebabkan komplikasi yang serius berupa:
  • Peritonitis

Apendiks yang pecah dapat menimbulkan lubang atau robekan di dindingnya, yang memungkinkan tinja, lendir, dan infeksi bocor dan meluas ke seluruh perut. Kondisi ini disebut peritonitis.Peritonitis dapat mengancam nyawa. Oleh karena itu, kondisi ini membutuhkan operasi untuk mengangkat usus buntu dan membersihkan rongga perut sesegera mungkin.
  • Abses di perut

Usus buntu yang pecah dapat membentuk suatu kantung yang berisi nanah akibat infeksi.Baca jawaban dokter: Sudah setahun, Mengapa Bekas Operasi Usus Buntu Masih Teras Sakit ? 
Anda tidak dapat mencegah penyakit usus buntu. Namun, ada beberapa cara untuk memperkecil peluang agar hal ini tidak terjadi pada Anda, yaitu dengan:
  • Mengonsumsi gandum bersamaan dengan sereal sarapan, yogurt, dan salad
  • Memasak makan menggunakan tepung yang terbuat dari gandum
  • Menambahkan kacang merah pada salad
  • Mengonsumsi buah-buahan secara teratur
Baca jawaban dokter: Benarkah madu dapat pulihkan luka operasi usus buntu? 
Apabila Anda mengalami rasa nyeri pada perut bagian kanan bawah atau memiliki gejala yang mengarah pada usus buntu, segera berkonsultasi dengan dokter. 
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini.
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apakah saya mengidap penyakit usus buntu?
    • Apakah ada penyebab yang lain?
    • Tes apa yang saya perlukan?
    • Apakah saya memerlukan pembedahan?
    • Apa risiko dari pengangkatan usus buntu?
    • Berapa lama pemulihan yang akan saya jalani?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Kapan Anda mengalami gejala ini?
  • Dari mana letak sakit perut Anda berasal?
  • Apakah rasa sakitnya menyebar?
  • Apa yang memperbaiki dan memperburuk kondisi Anda?
  • Apakah Anda mengalami mual dan demam?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap penyakit usus buntu?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis apendisitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/appendicitis
Diakses pada Januari 2019
MayoClinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543
Diakses pada Januari 2019
MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/000256.htm
Diakses pada Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/appendicitis/
Diakses pada 25 November 2020
Webmd. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-appendicitis#1
Diakses pada 25 November 2020
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=41960
Diakses pada 25 November 2020
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/appendicitis#
Diakses pada 25 November 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email