Kulit & Kelamin

Vulvitis

Diterbitkan: 21 Dec 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Vulvitis
Vulvitis adalah peradangan pada struktur terluar vagina bernama vulva
Vulvitis adalah peradangan pada vulva, yaitu struktur terluar vagina yang berupa lipatan kulit. Peradangan atau inflamasi pada vulva dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti infeksi, cedera, reaksi alergi, ataupun iritasi.Tiap wanita dapat mengalami vulvitis, tapi kaum hawa sebelum masa pubertas dan yang telah menopause lebih berisiko untuk mengalaminya. Pasalnya, mereka memiliki kadar estrogen yang lebih rendah, sehingga jaringan vulva lebih kering dan tipis.Biasanya, vulvitis tidak menimbulkan keadaan yang serius, meskipun dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau rasa sakit yang terus-menerus. Pengobatan vulvitis diberikan berdasarkan penyebab yang mendasarinya.
Vulvitis
Dokter spesialis Kulit
GejalaKemerahan, pembengkakan dan rasa gatal pada vulva
Faktor risikoMenopause, anak perempuan yang belum pubertas, menderita diabetes
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, tes laboratorium
PengobatanPerawatan diri, obat-obatan
ObatSalep kortison, antijamur, antibiotik
KomplikasiEndometritis , penyakit radang panggul, luka pada vagina
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala
Penderita vulvitis tidak selalu memiliki gejala yang sama. Beberapa gejala vulvitis yang umum terjadi meliputi:
  • Kemerahan dan pembengkakan pada vulva
  • Rasa gatal yang hebat
  • Bercak-bercak putih yang bersisik di vulva, yang bisa terasa nyeri saat disentuh
  • Lepuhan berisi cairan bening di kulit vulva
  • Kulit vulva bersisik
  • Sensasi terbakar di kulit vulva
Baca juga: Cara Mengobati Gatal di Vagina Secara Tradisional dengan Bahan Alami 
Vulvitis dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk:1. InfeksiInfeksi pada vulva dapa disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Kondisi infeksi juga bisa berasal dari vagina sendiri. Misalnya, herpes kelamin, kutil kelamin, kudis, kutu kelamin, serta infeksi jamur Candida.2. Iritasi dan alergiBeberapa bahan maupun produk berikut ini berpotensi mengiritasi atau memicu alergi pada vulva:
  • Sabun dengan kandungan parfum atau kimia yang keras
  • Tisu toilet yang mengandung parfum atau pewangi
  • Air kolam renang
  • Spermisida
  • Air di pemandian air panas
  • Pembalut wanita
  • Pakaian dalam dengan bahan yang tidak menyerap seperti nilon, spandeks atau bahan sintetis lainnya
  • Mengenakan pakaian renang yang basah untuk waktu yang lama
3. Penyakit tertentuPenyakit tertentu dapat menimbulkan peradangan pada vulva, misalnya kanker vulva. Demikian pula dengan kondisi kulit seperti eksim dan dermatitis. 

Faktor risiko

Beberapa kondisi berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya vulvitis, antara lain:
  • Kadar estrogen yang rendah seperti yang dialami oleh wanita yang telah mengalami menopause atau belum mengalai pubertas. Kurangnya hormon estrogen juga bisa memicu vagina kering, sehingga menyebabkan vagina lebih mudah iritasi dan nyeri.
  • Kulit sensitif, yang meningkatkan risiko alergi
  • Menderita diabetes, karena tingginya gula darah dapat meningkatkan risiko terkena infeksi
 
Diagnosis vulvitis ditentukan berdasarkan tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
  • Tanya jawab
Dokter akan bertanya seputar keluhan dan faktor risiko terhadap vulvitis.
  • Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan pada area genital dan panggul kemudian dilakukan untuk mendeteksi gejala vulvitis, seperti kemerahan, dan pembengkakan pada vulva. 
  • Pemeriksaan penunjang
Dokter mungkin pula menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebab vulvitis. Langkah ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari vagina maupun urine, kemudian memeriksanya di laboratorium. 
Pengobatan vulvitis yang dianjurkan oleh dokter umumnya meliputi penanganan penyebabnya dan pengobatan untuk meringankan gejalanya, dengan:
  • Menghindari produk yang dapat memicu iritiasi pada vulva

Bila vulvitis dipicu oleh senyawa tertentu yang menyebabkan iritasi pada vulva, Anda harus berhenti menggunakannya. Misalnya, sabun mandi atau produk kewanitaan, bahan celana dalam, maupun jenis tisu toilet tertentu.
  • Sitz bath

Sitz bath adalah duduk berendam dalam air dangkal. Anda bisa melakukannya dalam bathtub atau alat khusus di atas toilet. Langkah ini bisa mengurangi iritasi, gatal, dan nyeri pada organ intim, termasuk vulva.
  • Obat-obatan

Dokter bisa meresepkan beberapa jenis obat guna mengurangi gejala. Contohnya, salep kortison yang membantu meredakan iritasi dan rasa gatal, serta krim estrogen topikal untuk mengatasi rendahnya kadar estrogen.Dokter juga akan meresepkan beberapa obat-obatan sesuai penyebab vulvitis. Misalnya jika vulvitis disebabkan oleh infeksi jamur atau bakteri, maka dokter akan merekomendasikan krim antijamur atau antibiotik.Baca juga: Menjaga Kesehatan Vagina Ternyata Tak Perlu Repot 

Komplikasi

Tanpa perawatan yang tepat, vulvitis dapat memicu komplikasi berupa:
Baca jawaban dokter: Apakah warna vagina menandakan kesehatan vagina? 
Pencegahan vulvitis dapat Anda lakukan dengan tips berikut:
  • Pastikan agar organ intim selalu kering, misalnya setelah mandi atau buang air.
  • Jangan menggunakan produk pembersih kewanitaan. Jika tetap ingin memakainya, pilihlah produk tanpa parfum atau pewangi.
  • Kenakan celana dalam yang tidak ketat dan terbuat dari bahan menyerap keringat, contohnya katun.
  • Ganti pakaian dalam secara rutin, misalnya tiap habis mandi maupun setelah berenang atau berolahraga.
Baca juga: Cara Memilih Celana Dalam Wanita yang Sehat dan Nyaman 
Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala vulvitis maupun gangguan lain pada bagian genital. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait vulvitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis vulvitis. Setelah penyebabnya diketahui, dokter bisa memberikan langkah penanganan yang sesuai. 
Cleaveland. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15175-vulvitis
Diakses pada 26 November 2019
John Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/vulvitis
Diakses pada 26 November 2019
Patient. https://patient.info/womens-health/vulval-problems-leaflet/vulvitis/
Diakses pada 26 November 2019
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318834#What-are-the-symptoms-of-vulvitis
Diakses pada 26 November 2020
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/vulvitis-causes-symptoms-and-treatment-3520435#
Diakses pada 26 November 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/257141-overview#a5
Diakses pada 26 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email